Analisis Jurnal

Anggota        :

  • Ghina Naifah Badzlina        (14514523)
  • Muflihah Wahyu Agustina (16514873)
  • Yunita Dian Fakih                 (17512959)
  • Wanita Wynona Natalia      (1C514181)

2pa08

Judul              :

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DAN SELF EFFICACY DENGAN STRES KERJA PADA DOSEN UNIVERSITAS X

Self efficacy

Efikasi diri menurut  Banduru (2001) ialah keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk control terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan. Bandura beranggapan efikasi diri sebagai keyakinan seseorang akan kemampuannya sendiri. Hal yang mempengaruhi self efficacy :

  1. Pengalaman
  2. Modelling social
  3. Persuasi social
  4. Kondisi fisik dan emosional

Menurut Bandura (1997) self-efficacy adalah kemampuan generatif yang dimiliki individu meliputi kognitif, sosial, dan emosi.  Kemampuan individu tersebut harus dilatih dan di atur secara efektif untuk mencapai tujuan individu. Hal ini Bandura menyebutnya dengan self-efficacy karena menurut Bandura memiliki kemampuan berbeda dengan mampu mengorganisasikan strategi yang sesuai dengan tujuan serta menyelesaikan strategi tersebut dengan baik walaupun dalam keadaan yang sulit.

Di jurnal ini tingkat self efficacynya terbilang tinggi. Ini hal yang bagus karena bebrarti dosn di universitas tersebut mempunyai keyakinan atas potensi mereka sendiri sehingga menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas.

Teori Dua Faktor (juga dikenal sebagai teori motivasi Herzberg atau teori hygiene-motivator)

Teori ini dikembangkan oleh Frederick Irving Herzberg (1923-2000), seorang psikolog asal Amerika Serikat. Ia dianggap sebagai salah satu pemikir besar dalam bidang manajemen dan teori motivasi. Frederick Herzberg menyatakan bahwa ada faktor-faktor tertentu di tempat kerja yang menyebabkan kepuasan kerja, sementara pada bagian lain ada pula faktor lain yang menyebabkan ketidakpuasan. Dengan kata lain kepuasan dan ketidakpuasan kerja berhubungan satu sama lain.

Faktor-faktor tertentu di tempat kerja tersebut oleh Frederick Herzberg diidentifikasi sebagaihygiene factors (faktor kesehatan) dan motivation factors (faktor pemuas)

Dua faktor ini oleh Frederick Herzberg dialamatkan kepada faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, dimana faktor intrinsik adalah faktor yang mendorong karyawan termotivasi, yaitu daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing orang, dan faktor ekstrinsik yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang, terutama dari organisasi tempatnya bekerja.

Hygiene Factors

Hygiene factors (faktor kesehatan) adalah faktor pekerjaan yang penting untuk adanya motivasi di tempat kerja. Faktor ini tidak mengarah pada kepuasan positif untuk jangka panjang. Tetapi jika faktor-faktor ini tidak hadir, maka muncul ketidakpuasan. Faktor ini adalah faktor ekstrinsik untuk bekerja. Faktor higienis juga disebut sebagai dissatisfiers atau faktor pemeliharaan yang diperlukan untuk menghindari ketidakpuasan. Hygiene factors (faktor kesehatan) adalah gambaran kebutuhan fisiologis individu yang diharapkan untuk dipenuhi.Hygiene factors (faktor kesehatan) meliputi gaji, kehidupan pribadi, kualitas supervisi, kondisi kerja, jaminan kerja, hubungan antar pribadi, kebijaksanaan dan administrasi perusahaan.

Motivation Factors

Menurut Herzberg, hygiene factors (faktor kesehatan) tidak dapat dianggap sebagai motivator. Faktor motivasi harus menghasilkan kepuasan positif. Faktor-faktor yang melekat dalam pekerjaan dan memotivasi karyawan untuk sebuah kinerja yang unggul disebut sebagai faktor pemuas. Karyawan hanya menemukan faktor-faktor intrinsik yang berharga pada motivation factors (faktor pemuas). Para motivator melambangkan kebutuhan psikologis yang dirasakan sebagai manfaat tambahan. Faktor motivasi dikaitkan dengan isi pekerjaan mencakup keberhasilan, pengakuan, pekerjaan yang menantang, peningkatan dan pertumbuhan dalam pekerjaan.

Analisis

Secara keseluruhan hasil penelitian dalam jurnal ini masuk kedalam teori dua factor oleh Herzbeg. Dimana dalam motivation factor para dosen merasakan perkerjaannya mudah dan kurang menantang yang didalam jurnal ini stress kerjanya masuk dalam kategori rendah. Para pekerja beranggapan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut, namun para pekerja tetap merasakan adanya beban kerja dimana dosen tidak hanya mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat namun terdapat pekerjaa lain yaitu sebagai panitia dalam suatu acara fakultas atau universitas, sebagai pejabat structural serta membuat dan menyiapkan soal dan menilai ujian.

Stress kerja

Sebagai hasil atau akibat lain dari proses bekerja,tenaga kerja dapat mengalami stress,yang dapat berkembang menjadikan tenaga kerja sakit fisik maupun mental,sehingga tidak dapat bekerja secara optimal. Menurut Dr. Hans Selye “Stres adalah satu abstraksi. Orang tidak dapat melihat pembangkit stress (stressor). Yang dapat dilihat ialah akibat dari pembangkit stress”.

Stress ada beberapa macam yaitu,

  • Eustress membuat para pekerja menjadi produktif – semacam ketegangan yang menimbulkan kreativitas. Sebagian orang menyukai perasaan ini, meningkatkannya dan hampir menjadi ketagihan dengannya
  • Distress ialah ketika respons stress menjadi negatif atau merusak. Inilah yang dimaksudkan oleh sebagian besar dari kita ketika kita menggunakan kata stress. Kita benar-benar mengacu pada aspek-aspek negatif stress atau distress. Kita lebih mudah untuk menggunakan emosi negatif seperti marah, kesal, dendam, dan sebagainya daripada menggunakan akal sehat untuk berpikir. Kita cenderung mengasihani diri, mudah lelah, dan tidak dapat berpikir dengan jernih.
  • Hyperstress ialah volume stress yang berlebihan. Volume adalah sesuatu yang penting karena cara kita menghadapi stress bergantung pada berapa banyak stress yang kita hadapi. Bila jumlahnya masih bisa dikendalikan, maka kita dapat belajar untuk menghindari distress, dan jikalau memungkinkan mengubahnya menjadi eustress.

Dalam jurnal ini tingkat stress dosen terbilang rendah,karena profesionalitas para dosen yang bertanggung jawab akantugasnya. Tapi tidak ditampik juga bahwa stress terkadang muncul karena jengkel,beban kerja,lelah dan sedih. Stress dibutuhkan juga untuk menunjang kinerjanya,apabila pekerja diberikan tekanan maka mereka akan membuat target pada pekerjaanya. Tapi bila berlebihan pun dapat memicu distress.

Sumber            :

Teori Dua Faktor

Munandar, Ashar Sunyoto.2001.Psikologi Industri dan Organisasi.Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Feist,Jess and Gregory J.Feist.2009.Teori Kepribadian.Jakarta:Salemba Humanika.

http://www.kompasiana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s